Jakartaku Banjir

Subhanallah...
Allah kembali menurunkan rahmat melalui air hujan yang turun dari Kamis malam. Hari Jumat pagi aku kekantor melewati Jalan Bangka Raya, dengan membawa ransel untuk outing. Ternyata seluruh daerah Bangka - Kemang tertutup oleh banjir, sampai muter-muter mencari jalan pintas ke Jalan Kapt.Tendean juga ditutup. Karena bensin sudah memakai cadangan, akhirnya balik kembali keKemang untuk mengisi bahan bakar, didepan Pom Bensin Kemang, ketinggian air sudah mencapai diatas lutut. Sejenak meneduh sebentar disana secara hujan ternyata kian deras mengguyur Jakarta. Tanya-tanya ke orang lain, jalan satu-satunya yang bisa diakses menuju Mampang hanya melalui Republika (padahal sblmnya aku sudah melewati Republika). Akhirnya diputuskan Adikku untuk melewati Republika, di depan Gd.Phipils ketinggian air hampir 70 centimeter, tapi adikku dengan PeDe-nya bilang kalo motornya ga akan mati. Yo wis, aku manut wae...ternyata pas ditengah-tengah, motornya mati, terpaksa aku turun dari motor...byur.. air langsung menenggelamkan hingga ke pinggang aku. Aku hanya menyelamatkan HP, kamera, charger dan dompet yang memang ditaruh di tas kecil. sedangkan ranselnya ditaruh di motor, tiba-tiba entah kenapa tuh ransel bisa lepas dari kaitan motor terus hanyut ke tengah jalanan, lalu dari arah kanan mobil Kijang hitam menabraknya tanpa ampun, aku pun terdorong ombak yang dihasilkan dari Mobik Kijang yang berjalan dgn cepat (klo ga tancap gas, kemungkinan bisa mati mesinnya).
Astaghfirullah.. kenapa bisa terjadi seperti ini? Tapi Alhamdulillah ransel bisa ditemukan dan diambil sama anak kecil. Makasih ya Dik...
Tapi apa daya, semuanya dah basah, aku pun hanya pasrah, terus mendorong tuh motor ke Unas (kampus adikku), mencoba untuk mengeringkan busi dan knalpot motornya. Padahal adikku pas bawa 2 harddisk komputer senat kampusnya, dan tuh harddisk basah semua..
Hiks...hiks... kenapa Jakartaku jadi seperti ini? Apa karena tangan-tangan manusia juga yg menjadikan Jakarta banjir..?? Air yang semestinya memberikan manfaat, berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Hal ini mungkin terjadi akibat dari ketidaksadaran manusia akan pentingnya menjaga dan memelihara sumber daya air. Saluran air (drainase) di sekeliling, kita jejali dengan sampah-sampah, daerah aliran sungai (DAS), dijadikan tempat pembuangan limbah; dan potensi daerah resapan air pun kita rusak dengan alasan pembangunan.
Yang menyebabkan banjir itu sendiri mungkin salah satunya adalah kita. Tanpa kita sadari kita merubah bukit yang tadinya hijau menjadi kawasan perumahan. Tanpa kita sadari kita rubah selokan, parit, danau, dan sungai kita jadi lautan sampah. Seharusnya kita patut bersyukur bisa hidup di negri yang hijau dan subur ini yang membuat banyak bangsa ingin memilikinya...
Atau mungkin rasa syukur kita itu sendiri yang sudah tidak ada lagi...?
Naudzubillah... Semoga kita selalu diingatkan untuk tetap bersyukur dalam kondisi apapun..

No comments:
Post a Comment